April 13, 2026

BogorScope

Fakta Bukan Asumsi

Lahan trase baru Jalan Batutulis seluas 4.711 meter persegi yang sudah di-cut and fill kini kosong dipenuhi semak singkong dan pisang tanpa aktivitas konstruksi pada April 2026

Lahan trase baru Jalan Saleh Danasasmita (Batutulis), 5 April 2026. Foto: BogorScope

Jalan Batutulis Mangkrak: Janji April, Nyatanya Semak

bogorscope.com – Proyek pembangunan trase baru pengganti Jalan Saleh Danasasmita atau akses Stasiun Batu Tulis, Kota Bogor, terancam mangkrak. Meski Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor telah menyelesaikan tahap pematangan lahan (cut and fill) pada akhir Februari 2026 lalu, hingga memasuki minggu pertama April 2026, belum ada tanda-tanda dimulainya konstruksi fisik jalan tersebut.

Padahal, dalam unggahan resmi di akun Instagram @pemkotbogor pada 23 Februari 2026, Pemkot menyebutkan bahwa proses lelang akan berlangsung pada Maret 2026 dan konstruksi fisik akan dimulai pada April 2026.

“Bogorian berikut progres pembangunan Jalan Batu Tulis (Jalan Saleh Danasasmita). Tahapan Saat Ini adalah pengerjaan cut and fill untuk pembuatan trase baru. Estimasi waktu pelaksanaan yaitu 1-2 minggu (Mulai 23 Februari 2026). Pengerjaan akan berlanjut ke tahap lelang di Maret 2026 dan konstruksi fisik di April 2026,” demikian bunyi caption unggahan tersebut.

Namun berdasarkan pantauan BogorScope pada Minggu (5/4/2026), lahan seluas 4.711 meter persegi yang berlokasi di kawasan Batutulis tersebut masih terlihat kosong. Tidak ada aktivitas alat berat maupun pekerja di lokasi. Sebagian lahan bahkan mulai ditumbuhi semak belukar serta tanaman singkong dan pisang.

Pembangunan Fisik Kewenangan Pemprov Jabar

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor, Denny Mulyadi, sebelumnya menjelaskan bahwa pematangan lahan yang dilakukan Pemkot merupakan bentuk percepatan. Sementara pembangunan fisik jalan sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat.

“Pemkot Bogor mulai melakukan pekerjaan cut and fill pada akses jalan rencana pengalihan dari Jalan Saleh Danasasmita yang lahannya telah dibebaskan. Proses awal tersebut meliputi pematangan lahan, pekerjaan cut and fill, serta pengecekan dan penanganan utilitas yang berada di lokasi,” kata Denny, Selasa (24/2/2026).

Baca Juga: Batutulis: Situs, Longsor, dan Janji Setahun

Denny menambahkan bahwa pembangunan fisik trase baru tersebut masih dalam tahap lelang di Pemprov Jabar. “Pembangunan fisik diperkirakan dapat dimulai dalam waktu dua hingga tiga bulan ke depan, karena saat ini masih dalam tahap lelang dan review perencanaan. Diharapkan proses ini berjalan cepat, sehingga hasilnya dapat segera dinikmati masyarakat Kota Bogor yang terdampak,” imbuhnya.

Target penyelesaian konstruksi jalan sepanjang 230 meter dengan lebar 18 meter tersebut diharapkan rampung dalam waktu enam bulan. Anggaran pembebasan lahan sendiri mencapai Rp19,99 miliar yang bersumber dari APBD Kota Bogor.

Jalan Saleh Danasasmita yang menjadi akses utama menuju Stasiun Batu Tulis dan jalur alternatif menuju Sukabumi pertama kali amblas pada awal Maret 2025. Sejak saat itu, kendaraan roda empat dialihkan melalui kawasan permukiman dan perumahan warga.

Jalan lama tersebut sempat dibuka khusus untuk kendaraan roda dua, namun kembali retak pada akhir Januari 2026 dan akhirnya ditutup total hingga sekarang. Meskipun sudah dipasang barrier beton dan portable, masih banyak warga yang nekat menerobos dengan menggeser pembatas jalan tersebut.

Pantauan BogorScope menunjukkan bahwa warga terpaksa mengambil risiko tersebut karena rasa geram atas ketidakpastian pembangunan jalan baru. Sementara itu, jalan alternatif yang ada hanya berupa jalan-jalan dan gang sempit di sekitar Stasiun Batutulis yang tembus ke Lawanggintung, setiap hari dipadati antrean puluhan sepeda motor yang mengular.

Baca Juga: Stasiun Ciomas vs Batutulis: Ironi Prioritas Transportasi Bogor

Dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya, Wakil Wali Kota Bogor menyebutkan bahwa tim teknis tengah melakukan survei untuk sejumlah lokasi, termasuk trase baru Jalan Batutulis, Leuweung Batutulis, Taman 7 Sumur, serta Jalan longsor Kebon Pedes.

Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi yang memuat timeline pasti kapan proses lelang akan dimulai atau kapan konstruksi fisik akan dilaksanakan. Publik juga tidak dapat menemukan informasi lelang proyek tersebut di website resmi pengadaan pemerintah.

Warga Geram: “Sudah Setahun, Kami Semua Kesusahan”

Kondisi ini memicu kekecewaan warga, khususnya yang bermukim di kawasan Cipaku, Pamoyanan, dan sekitarnya yang setiap hari terdampak kemacetan akibat penutupan Jalan Saleh Danasasmita.

Sejumlah warga menyuarakan kegelisahannya melalui media sosial. Akun @michaaelchen melontarkan tiga pertanyaan kritis terkait proses pembangunan tersebut.

“Lelang di Maret, pengerjaan di April. Cair dana dari pemerintah apakah secepat itu? Solusi untuk jalur motor yang sudah dibuat tapi longsor lagi bagaimana? Apakah selama proses itu, pemerintah tidak bisa mengkoordinasi jalur alternatif yang ada? Semisal jalur di Cipinang Gading dan Pabuaran dibersihkan dari PKL di setiap pintu keluar masuk,” tulisnya.

Baca Juga: Penertiban PKL Bogor: Janji Ketertiban, Realitas Pandang Bulu

Ia juga menyampaikan rasa frustrasinya. “Tolong lah, sudah 1 tahun ini Pak Bu. Kami semua kesusahan. Saya tahu semua butuh proses. Tapi semua yang dijelaskan ada lah proses administrasi yang harusnya bisa lebih efisien pengerjaannya. Kalau tidak percaya, silakan datang ke Pamoyanan dan Cipaku. Lihat betapa susahnya kita di sini.”

Kekecewaan serupa disampaikan oleh @davit_permana34 yang menilai proyek ini tidak ditangani dengan skala prioritas yang semestinya.

“Sekarang ada update bulan, paling bulan depan diganti lagi tuh target pengerjaan dan selesainya. Kecewa berat dengan progres pembangunan yang harusnya skala prioritas (dampak bencana), tapi kerjaannya sudah kayak rencana bangunan baru,” ujarnya.

Sementara itu, @knrr.aja berharap proyek ini tidak terus mengalami keterlambatan. “Yah mudah-mudahan dilancarkan sesuai tepat waktu. Jangan molor mulu tenggat waktu, kasihan warga khususnya Cipaku-Pamoyanan dan sekitarnya yang terdampak.”

Ada pula warga yang menyoroti peran Gubernur Jawa Barat. Akun @chcai.97 menuliskan, “Pak @dedimulyadi71 sebagai gubernur Jabar yang ikut mengetahui adanya permasalahan di proses lelang lahan, mohon Bapak memantau dengan seksama proses pembangunan ini. Warga Bogor Selatan sudah capek hati dibohongin pemkot sendiri. Hatur nuhun.”

Sementara @thegreen_land119 mengusulkan solusi sambil meluapkan kekesalannya. “Jalan sementara akses kendaraan roda 2 dibuka kembali tapi dengan pengawasan 24 jam dari pemkot, ripuh macet wae (macet aja)!!!!!”

Kepadatan lalu lintas di jalur-jalur tersebut terjadi hampir setiap jam sibuk. Kendaraan roda empat sama sekali tidak bisa melintasi jalan lama, sementara kendaraan roda dua pun harus berputar jauh atau menerobos barrier dengan risiko keamanan.

Proses Lelang Tak Terlihat, Publik Menunggu Kepastian

Hingga berita ini diturunkan pada 5 April 2026, tidak ditemukan informasi resmi mengenai proses lelang pembangunan fisik trase baru Jalan Batutulis di website Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Jawa Barat maupun portal pengadaan lainnya.

Pernyataan terbaru dari jajaran Pemkot Bogor maupun Pemprov Jabar belum ada yang secara spesifik menjelaskan posisi terkini proyek tersebut. Masyarakat hanya bisa menunggu dan berharap bahwa proyek yang sangat dibutuhkan ini tidak berakhir sebagai “proyek mangkrak” lain yang hanya menyisakan kekecewaan.

Sementara itu, lahan yang sudah di-cut and fill kini dibiarkan begitu saja. Tanpa kepastian kapan kontraktor akan mulai bekerja, tanpa kepastian kapan warga bisa kembali melintas dengan aman dan nyaman.

Pertanyaan yang masih menggantung: Di mana proses lelang pembangunan fisik jalan tersebut? Kapan konstruksi fisik benar-benar akan dimulai? Adakah solusi jangka pendek untuk meringankan beban warga yang setiap hari terjebak macet di jalur alternatif?

Warga Bogor Selatan, terutama Batutulis dan sekitarnya hanya bisa berharap bahwa janji demi janji yang selama setahun terakhir didengar, kali ini benar-benar diwujudkan. Bukan sekadar menjadi wacana yang berganti bulan, berganti target, namun tak pernah sampai pada realisasi.(*)