April 13, 2026

BogorScope

Fakta Bukan Asumsi

Bukit yang Menangis: Antara Kopi, Golf, dan Banjir Bandang

bogorscope.com – Kawasan perbukitan yang membentang di Kecamatan Babakanmadang dan Sukaraja, Kabupaten Bogor, tengah mengalami perubahan wajah. Dari kejauhan, hamparan hijau yang dulu menjadi pemandangan khas kini mulai terpotong oleh garis-garis tegas bangunan beton. Alat berat terlihat di sana-sini, meratakan tanah, memotong lereng, menyiapkan lahan untuk perumahan elite dan kawasan komersial.

Di Gunung Geulis, sebuah alat berat berhenti di tengah lahan yang baru diratakan. Tak jauh dari sana, beberapa orang tengah bermain golf di lapangan hijau yang dahulunya adalah perkebunan warga. Di Bojongkoneng, coffee shop bermunculan di tepi-tepi tebing, dengan pemandangan langsung ke arah lembah. Sungai di bawahnya perlahan menyempit, dipinggirkan oleh bangunan-bangunan baru.

Rabu, 11 Februari 2026, banjir bandang melanda kawasan Cijayanti hingga Bojongkoneng. Air mengalir deras membawa material dari atas bukit, menerjang jalan dan pemukiman di bawahnya. Bencana itu bukan yang pertama. Pada Januari 2026, tanah bergerak di Karang Tengah merusak 11 rumah. Pada September 2022, peristiwa serupa terjadi di Bojongkoneng, merusak 23 bangunan dan jalan sepanjang satu kilometer.

Para ahli mengingatkan bahwa kawasan ini termasuk zona merah pergerakan tanah. Namun alih fungsi lahan terus berjalan. Jalan-jalan baru dibangun tanpa sistem drainase yang memadai. Lereng-lereng yang seharusnya menjadi resapan air dipotong dan diratakan. Di atas tanah yang sama, kini berdiri lapangan golf, coffee shop, dan perumahan mewah dengan harga mulai Rp7,5 miliar per unit.

Pertanyaan yang muncul bukan sekadar soal izin atau kelayakan teknis. Namun lebih dari itu: untuk siapa sebenarnya pembangunan ini diorientasikan, dan siapa yang bersedia menanggung risiko ketika alam tak lagi bisa berkompromi. (*)