April 13, 2026

BogorScope

Fakta Bukan Asumsi

Kolase foto Stasiun Ciomas/Rancamaya dan lahan Stasiun Sukaresmi

Kolase foto Stasiun Ciomas/Rancamaya dan lahan Stasiun Sukaresmi

Ironi Transportasi Bogor: Banyak Rencana, Nol Realisasi

bogorscope.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor kembali menggulirkan wacana besar di sektor transportasi. Wali Kota Dedie Rachim belum lama ini sempat mengusulkan perpanjangan jalur KRL Commuter Line hingga Stasiun Ciomas/Rancamaya di Bogor Selatan. Tak hanya itu, ia juga kembali mendorong realisasi Stoplet (stasiun kecil) Sukaresmi yang telah direncanakan sejak 2014. Namun, di balik wacana tersebut, publik justru bertanya: mana realisasi dari rencana-rencana yang sudah lama digaungkan?

Stasiun Ciomas/Rancamaya: Megah Tapi Mangkrak

Stasiun Ciomas yang terletak di kawasan Rancamaya sejatinya sudah berdiri megah. Dibangun pada 2024 sebagai bagian dari proyek jalur ganda (double track) Bogor-Sukabumi yang menelan anggaran Rp2,2 triliun, stasiun ini kini hanya menjadi bangunan mati. Tak ada aktivitas, tak ada penumpang, tak pula ada petugas.

Berdasarkan pantauan BogorScope, bangunan stasiun berlantai keramik putih itu sudah dipenuhi kotoran burung dan kelelawar. Beberapa lampu mulai bergelantungan tak terawat. Peron panjang dengan atap kokoh hanya menjadi saksi bisu kereta api Pangrango yang melintas tanpa pernah berhenti.

Baca Juga: Jalan Nasional Diperbaiki Pemkot, Warga Terjebak Macet

Padahal, Wali Kota Dedie Rachim baru-baru ini menyampaikan optimismenya terkait perluasan KRL ke wilayah selatan. “Saya dapat info, paling tidak di satu tahun ini, kabel atas itu sudah sampai Paledang,” jelasnya kepada Radar Bogor. Ia menambahkan, jika KRL dapat diperluas hingga Paledang, arus penumpang dari selatan dan Sukabumi dapat terurai lebih awal.

Namun warga menanggapi dengan nada skeptis. “Ajukan terus… Sukaresmi aja ga resmi-resmi,” tulis @nakawansha di kolom komentar. Yang lain menyindir, “Si paling wacana wkwk,” kata @pebrianramadhan. Bahkan ada yang menyebut, “BOGOR MENGKHAYAL,” tulis @teungkufajar.

Menariknya, stasiun yang mangkrak ini berada persis di seberang kawasan perumahan elite Rancamaya yang dikembangkan oleh Sinarmas Land. Jalan mulus, trotoar terawat, dan gerbang megah berbanding terbalik dengan stasiun yang sunyi. Hal ini memicu spekulasi di kalangan warga bahwa usulan perpanjangan KRL lebih menguntungkan pengembang properti ketimbang kebutuhan publik.

Stasiun Sukaresmi: 12 Tahun Wacana, Nol Realisasi

Wacana pembangunan Stasiun Sukaresmi sejatinya sudah bergulir sejak 2014. Proyek ini direncanakan sebagai stoplet atau stasiun kecil di lahan seluas 1,6 hektare di Kecamatan Tanah Sareal. Anggaran Rp14 miliar dari APBD 2018 telah digelontorkan untuk pembebasan lahan, dan jalan beton sepanjang 572 meter pun telah dibangun sebagai akses.

Baca Juga: Sholis: Luka yang Berulang

Namun hingga 2026, tak ada tanda-tanda pembangunan fisik stasiun. Lahan yang seharusnya menjadi stasiun transit kini dipenuhi bangunan liar, bengkel, pengepul rongsokan, dan semak belukar. Setiap kali KRL Commuter Line melintas, penumpang hanya bisa melihat lahan kosong yang terbengkalai.

Wali Kota Dedie Rachim kembali mendorong realisasi stasiun ini. “Luasan lahan sekitar 1,6 hektare dan siap untuk dapat dimanfaatkan. Lokasinya mulai dari atas underpas Sholeh Iskandar. Tinggal dorong PT KAI dan Kementerian Perhubungan untuk realisasikan,” jelasnya.

Ia juga menyebut stasiun ini dapat difungsikan sebagai tempat transit hasil bumi untuk mendukung ketahanan pangan, serta mengurai kepadatan penumpang di Stasiun Bogor yang mencapai 90 ribu-100 ribu per hari.

Warga yang sudah lama menunggu pun angkat bicara. “Yang saya denger rencana stasiun Sukaresmi itu udah ada dari tahun 2000an awal tapi sampai sekarang udah sekitar 20 tahun belum terealisasi, padahal aksesnya udah mulai dibuat,” ungkap @baront05. “Isunya dari 2018 waktu masih SMP sampai sekarang belum juga jadi stasiunnya,” timpal @pragmaticprincee.

Baca Juga: Pemkot Klaim 90 Persen Jalan Rusak Sudah Diperbaiki, Begini Faktanya!

“Jalanan udah dicor, tinggal nunggu apalagi coba,” tanya @jarwowong sinis. Namun ada juga yang memberi catatan, “Setuju. Tapi infrastruktur pendukung harus layak dan cukup (besar), pasti banyak penumpang dari sekitar Kedung Halang, Yasmin, Salabenda dan sekitarnya,” kata @barunas_36.

Angkot, Biskita, hingga Wacana Trem

Di tengah wacana transportasi modern, angkot tua masih merajai jalanan Kota Bogor. Perda Nomor 8 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Transportasi menargetkan penghapusan 1.940 angkot berusia di atas 20 tahun mulai 1 Januari 2026. Namun hingga kini, angkot-angkot tersebut masih bebas ngetem di badan jalan.

Di Jalan Juanda, Jalan Dewi Sartika, Jalan Mayor Oking, dan sekitar Alun-Alun Bogor, angkot terlihat berjejer, berhenti sembarangan, dan menaikkan penumpang di tengah jalan. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan kemacetan, tetapi juga membahayakan pengendara lain.

Seorang warganet menyoroti hal ini, “Bogor mau dibikin apa aja bagus. Cuman angkot-angkotnya yang buat kaga bagus,” tulis @vikarelchapo.

Layanan Biskita Transpakuan yang diharapkan menjadi tulang punggung transportasi publik Bogor juga tak luput dari masalah. Anggaran Rp50 miliar disiapkan untuk menjamin keberlanjutan layanan pada 2026. Namun faktanya, bus-bus lebih banyak terlihat ngetem di Terminal Bubulak ketimbang melayani warga.

Koridor 2 memang kembali beroperasi pada Januari 2026, namun load factor yang tinggi tidak diimbangi dengan frekuensi memadai. Sementara koridor lain nasibnya tak jelas.

Puncak dari semua wacana adalah rencana uji coba trem listrik di pusat Kota Bogor pada 2026. Trem yang diproduksi PT INKA ini direncanakan melintasi Jalan Kapten Muslihat, Jalan Dewi Sartika, dan Jalan Mayor Oking, ruas-ruas yang saat ini sudah dipadati angkot, PKL, dan ojek online.

Lebar jalan yang tak sampai 8 meter, ditambah parkir liar dan aktivitas bongkar muat, membuat wacana ini terasa mengawang-awang. Warga pun bertanya: bagaimana mungkin trem melintas di jalan yang bahkan untuk angkot saja sudah semrawut?

Pertanyaan di Penghujung Wacana

Stasiun Ciomas yang megah terbengkalai. Stasiun Sukaresmi 12 tahun hanya wacana. Angkot semrawut di pusat kota. Biskita tak optimal. Trem direncanakan di jalan sempit. Sementara pengembang properti tersenyum melihat harga lahan meroket. Jadi, untuk siapa sebenarnya transportasi ini dibangun?

Artikel ini ditulis berdasarkan liputan lapangan BogorScope di Stasiun Ciomas/Rancamaya, Stoplet/Stasiun Sukaresmi, dan sejumlah ruas jalan di Kota Bogor, serta wawancara dengan sumber daring dan tanggapan warga di media sosial.(*)