April 13, 2026

BogorScope

Fakta Bukan Asumsi

Split screen membandingkan Stasiun Ciomas yang megah tapi kosong dengan Jalan Batutulis yang longsor dan tak kunjung diperbaiki. Jarak kedua lokasi hanya 4,3 kilometer.

Sebelah kiri: Stasiun Ciomas yang relative megah namun mangkrak setahun. Sebelah kanan: Stasiun Batutulis yang cukup megah dengan akses terbatas akibat longsor sejak Maret 2025. Jarak kedua lokasi hanya 4,3 km. (Dok. BogorScope)

Stasiun Ciomas Rancamaya, Prioritas atau Pesanan?

bogorscope.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor baru-baru ini mengumumkan rencana pembangunan akses jalan menuju Stasiun Ciomas di kawasan Rancamaya, Bogor Selatan. Wali Kota Dedie Rachim meninjau langsung lokasi pada Senin (9/3/2026) bersama jajaran Dinas PUPR, Perhubungan, serta camat dan lurah setempat.

Menariknya, pembangunan akses tersebut tidak akan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan melalui skema Corporate Social Responsibility (CSR) dari pengembang perumahan elite Rancamaya, PT Sinarmas Land.

Kepala Dinas PUPR Kota Bogor, Juniarti Estiningsih, menyatakan bahwa mekanisme ini dipilih demi percepatan. “Kalau kita menunggu APBD cukup besar dan cukup berproses. Karena kita ingin percepatan,” ujarnya.

Baca Juga: Ironi Transportasi Bogor: Banyak Rencana, Nol Realisasi

Namun, di balik rencana yang terkesan progresif ini, banyak mengundang tanya dari warga Bogor, mengapa Stasiun Ciomas yang terletak di Kampung Ciomas Margabakti, Kelurahan Kertamaya, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor ini tiba-tiba menjadi prioritas, sementara sejumlah proyek transportasi dan infrastruktur lain justru mandek bertahun-tahun?

Stasiun Ciomas: Relatif Megah Setahun, Baru Kini Diurus

Stasiun Ciomas sejatinya telah selesai dibangun pada tahun 2024 sebagai bagian dari proyek jalur ganda (double track) Bogor-Sukabumi yang menelan anggaran Rp2,2 triliun. Namun sejak diresmikan, stasiun ini tak pernah berfungsi. Bangunan megah dengan peron panjang itu hanya menjadi saksi bisu kereta api Pangrango yang melintas tanpa pernah berhenti.

Berdasarkan pantauan BogorScope, kondisi stasiun kini mulai terbengkalai. Lampu-lampu bergelantungan, lantai keramik dipenuhi kotoran burung dan kelelawar. Tak ada aktivitas, tak ada petugas, tak ada penumpang.

Baca Juga: Jalan Nasional Diperbaiki Pemkot, Warga Terjebak Macet

PT Kereta Api Indonesia (KAI) beralasan bahwa stasiun tak bisa dioperasikan karena tidak adanya akses jalan yang memadai menuju lokasi. Selama ini, satu-satunya akses masuk adalah melalui kawasan perumahan elite Rancamaya yang dijaga ketat oleh sekuriti.

Kini, dengan rencana pembangunan akses jalan yang dibiayai CSR pengembang yang sama, warga mulai bertanya: kebetulan atau skenario?

Empat Ironi di Balik Rencana Ciomas

Batutulis: 4,3 KM, Setahun Longsor, Tak Kunjung Selesai

Hanya berjarak 4,3 kilometer dari Stasiun Ciomas, Stasiun Batutulis justru berada dalam situasi memprihatinkan. Jalan akses utama di depan stasiun (Jalan Saleh Danasasmita) ambles pada 4 Maret 2025 dan hingga kini, sudah setahun lebih, warga menunggu akses jalan pengganti.

Warga Bogor Selatan yang selama ini bergantung pada jalur tersebut terpaksa berputar melalui jalan alternatif sempit, rusak, dan macet. Sementara stasiun megah Batutulis yang juga selesai dibangun dalam proyek double track, setidaknya ikut kena imbas, dengan sepinya penumpang.

“Kagak setuju,” tulis @imronjaya_ di kolom komentar. “Mending pakai batutulis dulu selagi tunggu akses stasiun rancamaya jadi,” timpal @pauladiyanto.

Sukaresmi: 12 Tahun Wacana, Lahan Rp14 M Jadi Rongsokan

Di sisi utara Kota Bogor, wacana pembangunan Stasiun Sukaresmi telah bergulir sejak 2014. Anggaran Rp14 miliar dari APBD 2018 digelontorkan untuk pembebasan lahan seluas 1,6 hektare. Jalan beton sepanjang 572 meter pun telah dibangun sebagai akses.

Namun hingga 2026, tak ada tanda-tanda pembangunan fisik stasiun. Lahan yang seharusnya menjadi stasiun transit kini dipenuhi bangunan liar, bengkel, dan tumpukan rongsokan. Ironisnya, jalur KRL di lokasi tersebut yang jelas-jelas sudah memiliki Listrik Aliran Atas (LAA), dan lebih layak keberadaannya justru tak kunjung dibangun.

“Urusin dulu pak stasiun sukaresmi, jalanan udah dicor tapi stasiun nya malah gak jadi jadi,” tulis @jarwowong.

Rawan Bencana

Stasiun Ciomas berada tepat di tepian Sungai Cisadane, dengan kontur tanah yang tak stabil. Area sekitar stasiun merupakan tebingan yang rawan bencana longsor, terutama di musim hujan. Letaknya yang rendah juga membuat kawasan ini langganan banjir saat debit air sungai naik.

Fakta ini kontras dengan pernyataan Kadishub Kota Bogor, Sujatmiko Baliarto, yang menyebut bahwa kondisi dan teknis jalan sudah memadai. “ROW dengan lebar tiga meter hingga empat meter,” ujarnya.

CSR Pengembang: Solusi atau Imbalan?

Skema pendanaan melalui CSR Rancamaya menuai kecurigaan publik. Pengembang perumahan elite disebut-sebut akan mendapatkan keuntungan besar jika stasiun beroperasi. Harga properti dan tanah di kawasan tersebut dipastikan melonjak.

Seorang warganet dengan akun @akhmadsadaruddin menulis: “Gercep amat pak wali. Seperti ada pesan sponsor. Yg di sukaresmi aja sdh ber thn2 ga ada realisasi, pdhl LAA nya sdh tersedia. Kebayang jg efek macet di jln muslihat krn dilewati jalur krl.”

Yang lain, @au_soekarno, mengingatkan: “Ingat yaa ini baru wacana, sama kaya jalan batu tulis pas awal heboh mau samape di bikin konten mau cepet cepet di bangun (bulan depan kita bangun lagi) tp alhamdulillah ampe skarang blum juga hehe.”

Stasiun Ciomas yang megah dan baru diperhatikan setelah setahun lebih mangkrak. Stasiun Batutulis yang hanya berjarak 4,3 km, dari Stasiun Ciomas, tapi aksesnya terbatas karena longsor setahun tak kunjung selesai. Stasiun Sukaresmi yang 12 tahun hanya wacana, padahal LAA sudah tersedia. CSR pengembang yang tiba-tiba hadir untuk mempercepat akses.

“Harusnya dari dulu pak,” tulis @yudhisnadimas singkat. “Tak perlu ada pembangunan jika pd akhirnya hny merusak dn ujungny saat kerusakan itu terjadi tak ada perbaikan yg disegerakan contoh longsor Batutulis,” timpal @angellee_nitta.

Pertanyaannya, ini prioritas atau pesanan? dan untuk siapa sebenarnya infrastruktur transportasi di Bogor ini dibangun? (*)